Peringatan hari besar nasional seperti Hari Kebangkitan Nasional
hendaknya tidak hanya berupa seremonial belaka, namun akan lebih
bermakna jika menjadi sebuah ajang refleksi dan evaluasi atas pencapaian
negara dan pemerintah terhadap kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Hal
ini tercermin dalam rencana aksi dan peringatan hari Kebangkitan
Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei oleh sejumlah jaringan
mahasiswa dan aktivis.
Sudah seharusnya, jiwa - jiwa kaum muda itu sadar akan rasa nasionalisme untuk membangun negeri ini yang lebih baik. Kita tidak buta akan apa yang terjadi di negeri kita dewasa ini. Segala kebijakan dan langkah yang di ambil pemerintah sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Para pejabat hanya mementingkan perut dan keperluan kelompok mereka, tanpa pernah memikirkan bagaimana dengan nasib 250juta jiwa yang telah mempercayakan kursi - kursi yang serat akan kesejahteraan itu kepada mereka., Semua itu mengakibatkan kepercayaan masyarakat yang kritis dan peduli terhadap nasib bangsa ini menjadi ragu, bahkan sama sekali tidak percaya terhadap birokrasi negera. Tidak adanya ketransparanan pengambilan keputusan ataupun khasus - khasus korupsi yang dilakukan pejabat negara semakin memperpanjang daftar penyebab kenapa kita harus turun aksi dan menggugah jiwa mereka yang telah tetidur akibat harta.
Tidaklah lupa kita pada 105tahun yang lalu, saat Budi Utomo lahir dan mengawali bentuk perlawanan terhadap penjajah melalui jalan intelektual. Disusul sumpah pemuda 28oktober 1928, yang telah menjadi ikrar akan semangat pejuang - pejuang muda kita dulu. Mereka bersatu, meninggalkan daerah, demi kemerdekaan Bangsa ini. Hingga akhirnya 17Agustus 1945 Bangsa ini merdeka, sebuah tujuan yang telah tercapai. HIngga tiba masa pembangunan yang dimana di dalamnya melenceng dari keinginan leluhur. Lunturnya rasa nasionalisme, semakin mempuruk keadaan bangsa ini, hingga tiba Mei 1998, para kaum muda yang dimotori oleh mahasiswa berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru dan berganti dengan Masa Reformasi. Tapi apa, yang terjadi sekarang tidaklah lebih bagus dari dulu. 13tahun sudah reformasi, tapi seolah rasa nasionalisme para kaum muda kita berjalan ke belakang. Semua elemen harus sadar dan menjadikan semua itu sebagai refleksi bagi kita untuk memulai membangun bangsa ini lebih baik lagi.
Setelah seratus tahun bangsa ini menyusuri jalan-jalan terjal kehidupan
berbangsa dan bernegara, sudah saatnya seluruh komponen negeri ini
bertobat dan kembali pada jati diri bangsa sebagaimana terkandung dalam
Pancasila yang murni dalam arti yang sesungguhnya bukan murni versi
rezim Orde Baru. Semangat kerakyatan, kebersamaan, keadilan sosial, dan
kemandirian merupakan jati diri bangsa yang terbukti mampu mengusir
kompeni. Itulah watak dasar bangsa ini. Bila dengan karakter bangsa kita
telah mampu mengusir penjajah, mestinya dengan semangat yang sama kita
mampu mengusir dampak negatif globalisasi.
Marilah kita ingatkan mereka yang saat ini mengawal nasib 250 juta
rakyat. Kita tidak boleh menghanyutkan diri dalam arus globalisasi yang
penuh gombalisasi itu.
Kita harus tetap berdaulat dengan negeri kita sendiri yang
didirikan oleh nenek moyang kita dengan penuh onak dan duri. Tugas para
pemimpin negeri hanya satu yakni membuat tangis rakyat menjadi senyuman,
bukan sebaliknya. Bila para pemimpin adalah anak-anak negeri yang
menghayati semangat kebangsaan, maka mereka tidak akan bertindak
menyalahi hati nuraninya. Tapi bila mereka telah berubah menjadi vampir,
maka mereka akan menghamba pada kekuatan neo-kolonialisme yang berwujud
IMF, Bank Dunia, dan WTO itu. Kalau sudah begitu, percuma bangsa ini
memiliki negara dan pemerintahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar