Sabtu, 25 Mei 2013

sindiran intelektual

Perusuh yang Menyampah

Melamar malam bersama cerita hidup.
Aku menunggu rasa berani. Itu percuma. Rasa berani kukira hanya datang ketika memutuskan sesuatu untuk diambil, untuk dijalankan, dan untuk mengecam ketakutan diri sendiri. Seperti manusia-manusia sampah yang seringkali menganggap diri yang paling benar dan untuk kebenarannya darah yang bertentangan halal.
Kekerasan demi kekerasan muncul bersama keyakinan-keyakinan baru yang keras. Keras dan tnpa otak. Mereka memeras dan menyebut nama Tuhan dengan kerasnya. Tanpa rasa malu. Kekuasaan di belakang mereka hampa tak terlihat. Mereka senang ketika ada yang berdarah dan darah itu bertentangan dengan mereka. Sampah.
Tersebutlah di negeri yang bernama Indonesia. Negeri yang presiden pertamanya adalah Soekarno dan melahirkan banyak orang-orang intelek yang keras secara pemikiran, ya mereka menggunakan otak. Negeri ini diperas terus menerus, hingga sekarang. Mungkin aku bkan orang pertama yang berkata dengan kalimat ini, tapi sekali lagi aku adalah salah satu bagian yang kecewa dan gelisah melihat keadaan ini.
Saya tak sekuat orang-orang parpol, tak sepintar Einstein dan tak semilitan Ahmad Wahib. Namun melihat semua ini tak harusnya saya diam. Bersama malam-malam aku masuk dalam jejeran pelawan. Barisan pemberontak kata dan menolak lupa. Pahlawan ini bukan individu dan bukan kolektif. Ada keadaan yang kemudian menimbulkan kemenangan dan kekalahan: Pengetahuan dan kekuasaan.
Bagaimana kemudian Pancasila yang digadang-gadang oleh pendiri bangsa ini mampu terwujud? jauh. Pendidikan tak mampu berjalan secara ideologis. Jalanan penuh dengan baliho yang beriklan dan guru-guru sibuk mencari sampingan. Para pengemis tetap mengemis, para gelandangan tetap menggelandang dan para pengamen tetap berbahagia dengan nyanyian mereka. Namun aku kira tak pantas melihat anak balita berjalan-jalan dan meminta-minta di lampu merah. Menghisap polusi yang mematikan dan menciptakanmindset rantai makanan sendiri: Lampu merah, uang dan makan.
Buat apa para mahasiswa, para demonstran, para FPI yang menjual nama Tuhan, para orang-orang yang melawan terus berteriak. Sementara tak ada yang berubah. Pengemis tetap mengemis dan gelandangan tetap menggelandang.
Sambil mengipas sate yang dijualbelikan di sebuah wilayah di depan benteng vredeburg, seorang ibu menjajakan barang dagangannya: sate. Pengamen dengan kontra bass yangdibawa kemana-mana, mereka bilang mereka Punk.Cahaya kuning lampu jalan menemani perubahan warna pada lampu merah. Di titik nol semua itu terjadi.
Buat apa kemudian terikan-teriakan yang sering disuarakan di Titik nol kilometer tersebut. Adakah perubahan yang terwujud? atau mereka hanya onani?  Entahlah. Dengan tak melihat kepayahan-kepayahan orang-orang yang mereka perjuangkan, masih saja ada yang meributkan perbedaan agama, suku dan ras. Kita ini Indonesia. Sudahlah. Apa untungnya kita meributkan mana ideologi yang benar dengan memaksa.
Angin malam yan menggigilkan. Hari gerimis. Aku berpindah kesebuah meja berukuran 2×2. Bersama kopi susu dan banyak kepulan asap. memikirkan masa depan sembari memikirkan masa depan orang banyak. Meski tak ada yang peduli tapi aku peduli. Salah bila aku mau berbagi? Berbagi dengan idealisme-idealisme sembari menyambung hidup. Namun lebh banyak yang egois ketimbang berbagi.
Bukankah yang lebih penting bagaimana kehidupan bersama kita lebih baik dibanding mendebat mana keyakinan yang lebih benar. Bukankah lebih penting meningkatkan kesejahteraan daripada menghancurkan dan menghambat orang yang berbeda keyakinan. Apakah kita diadu domba untuk lupa kalau kita juga sedang diperas oleh pihak lain? Entahlah.
Perbedaan ada agar kita saling mengenal. Bukan saling membunuh atau saling curiga. Untuk apa kita sekolah memperkuat kapasitas otak kalau toh akhirnya kita tak memakai otak dalam dunia sehari-hari. Salah sedikit pukul, bertanya sedikit dibilang sesat atau tak mau berpikir yang berat-berat atau apa. Jangan-jangan ini keadaan kritis, atau keadaan mendekati era mindlesness. Era dimana kemampuan berpikir diremehkan. Era dimana jahiliyah akan terulang lagi.
Ada yang membenci secara artifisial atau terprovokasi, ada yang membela tanpa tahu alasannya, ada yang ikut-ikutan memukul orang. Pada akhirnya kita hanya saling bunuh dan makin banyak yang memanfaatkan waktu ini. Hal ini akan terus terjadi jika para pemimpin, para guru, para orang-orang yang terus saja menampakkan diri di publik lupa akan tugasnya. Para guru yang menjadi perpanjangan tangan ideologi bangsa terus disibukkan mencari tambahan uang, para pimpinan sibk mencari proyek banyak orang yang membutuhkan pekerjaan dan pekerjaan. Apakah ini tak dianggap penting oleh orang-orang yang membunuh atas nama Tuhan itu? Siapa mereka sehingga berani-beraninya mengaku dekat dengan Tuhan.
Seorang pelacur dipukuli dan diusir dari desa-desa, para pemuda terus saja konsumtif terhadap produk-produk, anak-anak mengemis di jalanan. Salahkah mereka? Tambah lagi waria yang berada dimana-mana. Mereka hanya ingin mengisi perut mereka dan mempertahankan hidup. Hanya karena sistem yang menekan mereka dan keadaan sosial yang tak berpihak mereka harus menjadi bahan cacian.
Pernah ada seorang waria yang berbicara dalam satu forum. Ia menyatakan tentang sulitnya bagi mereka untuk mendapatkan kerja. “piiran orang bahwa waria itu hanya patut kerja di salon atau mengamen di pinggir jalan, padahal bagian dari kami pun mampu bekerja di bengkel atau di tempat lainnya,” kata waria tersebut.
Ada pula seorang ibu yang mencari makan dan uang sekolah anak-anaknya lewat melacur. Ia ditinggal suaminya dan sampai beberapa anaknya bisa lulus kuliah, ibu tersebut tak membuka rahasia bagaimana ia mampu membiayai anaknya. Ironis. Mungkin kita yang sekolah atau anda-anda yang berpendidikan tinggi bisa bilang begini
“kenapa nggak berpikir lebih keras untuk dapat penghasilan yang lebih halal?”
Tapi ibu itu buan seperti anda. Ia adalah salah satu korban yang cemas akan keadaan. Korban keadaan yang memaksanya untuk menjual diri. Sempitnya lapangan pekerjaan dan banyaknya orang yang semakin tak peduli degan kehidupan sesama salah satu penyebabnya juga. Bayangkan seorang kaya yang berada dilingkungan itu lebih memilih menanam saham di sebuah perusahaan besar dibanding membuka peluang kerja di lingkungannya. Seperti memberikan modal pada tetangganya atau cara lain yang mampu mengangkat kesejahteraan bersama.
Ah sudahlah. Mungkin banyak yang lebih peduli membuat diri sendiri nyaman dibanding memikirkan orang lain dan ebaikan bersama. Kita sudah susah tambah susah memikirkan orang lain, mindset yang terbangun sedemikian rupa dalam masyarakat.
Malam semakin dingin dan seingkali menjadi penghujan. Pengemis yang tidur di emperan toko semakin menggigil, anak-anak yang mereka selimuti semakin sesak paru-parunya, sementara itu dalam ruang-ruang yang tak kita ketahui masih saja ada orang-orang yang berpikir untuk menyingirkan ideologi ini atau ideologi itu. Sepertinya kita dilarang untuk belajar banyak demi keharmonisan.
Jikalau anda berada di Yogyakarta adakah pernah dengar tentang perkumpulan anti-komunis? Mereka pun salah satu orang-orang yang tak berpikir kesejahteraan masyarakat. Pikir saya. Kita belum berada dalam tataran pembunuhan-pembunuhan ideologi. Tahu Bhineka Tuggal Ika?  Saya kira akan banyak yang sekedar menganggap itu hanya sebatas jargon di kaki Garuda Pancasila. Siapa yang bisa bilang kalau seseorang akan benar secara mutlak?
Perbaikan di sektor kaderisasi guru setidaknya perlu perbaikan serius. Tak hanya tentang bagaimana cara menumbuhkan potensi dari peserta didik, tapi juga bagaimana pradadigma peserta didik itu juga Bhineka Tunggal Ika. Penting? Untuk jangka panjang saya pikir itu penting. Kecuali jikalau anda seorang psikopat yang haus akan kerusuhan-kerusuhan antar etnis agama atau identitas-identitas lainnya.
Saya lupa kalau pernah ditanamkan Bhineka Tunggal Ika. Bahkan mungkin tak pernah diajarkan? Saya lupa. Melupa seiring dengan kebutuhan-kebutuhan yng terkadang dibuat-buat.
Bisakah berbagai suku bersatu menuntut perubahan di area pendidikan pada pemerintahan? atau bisakah para aktivis tak lagi mengeluhkan bagaimana apatisnya masyarakat terhadap himbauan mereka dan mencari metodologi yag lebih pas? Bisakah? Bisakah?Bisakah?
Bersama malam dan kegigilan ini banyak doa yang naik dan banyak serapah menjalar. Kitamanusia dan mereka manusia. Namun apa guna saya menulis ini jikalau tak ada manfaatnya. Entahlah. Malam bersama mendungnya tetap tak terlihat jelas. Tidur sejenak melepas kerusuhan perasaan. Selamat malam sampah-sampah kota. Sampah-sampah bertopengkan medali emas dan tulisan “benar”.

Jumat, 17 Mei 2013

Peringatan hari besar nasional seperti Hari Kebangkitan Nasional hendaknya tidak hanya berupa seremonial belaka, namun akan lebih bermakna jika menjadi sebuah ajang refleksi dan evaluasi atas pencapaian negara dan pemerintah terhadap kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Hal ini tercermin dalam rencana aksi dan peringatan hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei oleh sejumlah jaringan mahasiswa dan aktivis.
 Sudah seharusnya, jiwa - jiwa kaum muda itu sadar akan rasa nasionalisme untuk membangun negeri ini yang lebih  baik. Kita tidak buta akan apa yang terjadi di negeri kita dewasa ini. Segala kebijakan dan langkah yang di ambil pemerintah sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Para pejabat hanya mementingkan perut dan keperluan kelompok mereka, tanpa pernah memikirkan bagaimana dengan nasib 250juta jiwa yang telah mempercayakan kursi - kursi yang serat akan kesejahteraan itu kepada mereka., Semua itu mengakibatkan kepercayaan masyarakat yang kritis dan peduli terhadap nasib bangsa ini  menjadi ragu, bahkan sama sekali tidak percaya terhadap birokrasi negera. Tidak adanya ketransparanan pengambilan keputusan ataupun khasus - khasus korupsi yang dilakukan pejabat negara semakin memperpanjang daftar penyebab kenapa kita harus turun aksi dan menggugah jiwa mereka yang telah tetidur akibat harta.
      
       Tidaklah lupa kita pada 105tahun yang lalu, saat Budi Utomo lahir dan mengawali bentuk perlawanan terhadap penjajah melalui jalan intelektual. Disusul sumpah pemuda 28oktober 1928, yang telah menjadi ikrar akan semangat pejuang - pejuang muda kita dulu. Mereka bersatu, meninggalkan daerah, demi kemerdekaan Bangsa ini. Hingga akhirnya 17Agustus 1945 Bangsa ini merdeka, sebuah tujuan yang telah tercapai. HIngga tiba masa pembangunan yang dimana di dalamnya melenceng dari keinginan leluhur. Lunturnya rasa nasionalisme, semakin mempuruk keadaan bangsa ini, hingga tiba Mei 1998, para kaum muda yang dimotori oleh mahasiswa berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru dan berganti dengan Masa Reformasi. Tapi apa, yang terjadi sekarang tidaklah lebih bagus dari dulu. 13tahun sudah reformasi, tapi seolah rasa nasionalisme para kaum muda kita berjalan ke belakang. Semua elemen harus sadar dan menjadikan semua itu sebagai refleksi bagi kita untuk memulai membangun bangsa ini lebih baik lagi.

        Setelah seratus tahun bangsa ini menyusuri jalan-jalan terjal kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah saatnya seluruh komponen negeri ini bertobat dan kembali pada jati diri bangsa sebagaimana terkandung dalam Pancasila yang murni dalam arti yang sesungguhnya bukan murni versi rezim Orde Baru. Semangat kerakyatan, kebersamaan, keadilan sosial, dan kemandirian merupakan jati diri bangsa yang terbukti mampu mengusir kompeni. Itulah watak dasar bangsa ini. Bila dengan karakter bangsa kita telah mampu mengusir penjajah, mestinya dengan semangat yang sama kita mampu mengusir dampak negatif globalisasi.  Marilah kita ingatkan mereka yang saat ini mengawal nasib 250 juta rakyat. Kita tidak boleh menghanyutkan diri dalam arus globalisasi yang penuh gombalisasi itu.

         Kita harus tetap berdaulat dengan negeri kita sendiri yang didirikan oleh nenek moyang kita dengan penuh onak dan duri. Tugas para pemimpin negeri hanya satu yakni membuat tangis rakyat menjadi senyuman, bukan sebaliknya. Bila para pemimpin adalah anak-anak negeri yang menghayati semangat kebangsaan, maka mereka tidak akan bertindak menyalahi hati nuraninya. Tapi bila mereka telah berubah menjadi vampir, maka mereka akan menghamba pada kekuatan neo-kolonialisme yang berwujud IMF, Bank Dunia, dan WTO itu. Kalau sudah begitu, percuma bangsa ini memiliki negara dan pemerintahan.